( Inspirasi cerita Workshop KTSP di KG Jakarta)
copyright@rahmatmukin
Aii… senangnya dalam hati, kalau beristri dua, Oh seperti dunia, Ana yang punya, Kepada istri tua, Kanda sayang padamu, Oh kepada isteri muda, I say i love you, Istri tua merajuk, Balik ke rumah istri muda, Kalau dua-dua merajuk, Ana kawin tiga, Mesti pandai pembohong, Mesti pandai temberang, Oh tetapi jangan sampai, Hai pecah tembelang…..
Itulah isi syair lagu Ahmad Dhani, awal 2009 yang banyak diprotes kaum LSM aktifis perempuan karena dianggap isinya sangat provokatif. “Lagu Malaysia yang didaur ulang oleh pentolan Band Dewa 19 tersebut sempat diminta untuk dilarang beredar oleh Manager Riset LSM Perempuan Kalyanamitra Hegel Terome,(detikcom, Kamis, 26/2/2009), tapi tetap saja lagu tersebut beredar dan merebut sebagian hati kalangan masyarakat karena dianggap sebagai realita kehidupan masyarakat, dan tidak perlu untuk ditutup-tutupi untuk hidup dalam kemunafikan; di rumah suami miliki satu istri, di luar rumah suami beristri lagi tanpa sepengetahuan istri di rumah.
Terlepas dari pro dan kontra lagu tersebut, ada yang bilang ‘beristri satu saja repot, apalagi beristri dua, tiga atau empat…huff. Tapi memang, tidak dapat dipungkiri bahwa kaum lelaki umumnya bernaluri poligami, tinggal kini, peran istri setia meramu agar sang suami tetap setia dan tidak pindah ke lain hati; Cerita di bawah ini bukan anjuran saya untuk anda berpoligami, karena poligami butuh lebih dari sekedar isi kantong tapi juga isi jiwa dan raga untuk berlaku adil.
Cerita ringan berikut ini mungkin dapat kita ambil hikmahnya, dan perlu kita mengenal tipe-tipe istri dan siapakah mereka?
Ada seorang Pengusaha kaya raya, memiliki 4 orang istri.
Istri pertamanya cantik, setua umurnya, polos, manja dan dia adalah istri dengan tipe setia, penyayang dan tetap mendampingi sang pengusaha dengan kesetiaan penuh, baik dalam keadaan senang mau pun susah. Istri pertama ini orangnya walau cantik, tapi terlihat kurus tak terurus, sering sakit-sakitan, bahkan kadang terlupakan karena kurang diperhatikan pengusaha tersebut. Kesibukan sang pengusaha dengan pekerjaan dan istri-istri mudanya, membuat istri pertama sering terabaikan; dapat dimaklumi namanya juga istri tua.
Istri kedua sang pengusaha adalah mantan sekretarisnya, orangnya juga cantik, manis, ramah, baik hati dan dia adalah tipe istri yang juga setia, walau kadang ia agak sedikit materialis; istri kedua ini, selalu memberikan nasihat dan dukungan, menyiapkan pakaiannya, mengatur jadwal kerja sang suami, walau pun kadang mereka sering ribut-ribut kecil, namanya juga kehidupan rumah tangga, ya wajarlah jika kadang harus berselisih faham dalam mengambil suatu keputusan. Walau pun demikian sang pengusaha sangat menyangi istri keduanya ini, dia selalu memberikan apa saja yang diminta oleh istri keduanya ini, demi selalu menjaga keharmonisan hubungan rumah tangganya.
Istri ketiga sang pengusaha ini, paling cantik, suka pamer, kemana-mana selalu tampil di depan suaminya, menjadi pusat perhatian karena kecantikan dan kemolekannya. Jika dia hadir, orang-orang selalu kagum dengan aura kecantikannya yang menggoda. Orang-orang sangat menghormatinya, memujanya, bahkan bila perlu merebut dari sang pengusaha untuk menjadi istri simpanan. Kecantikan sang istri membuat sang suami memiliki penghasilan lebih, sehingga membuatnya kawin lagi.
Istri keempatnya adalah istri yang tak kalah cantik, juga menjadi pusat perhatian, suka berdandan, suka pamer walau pun dia sendiri sudah cantik. Dia pun menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitarnya. Saking cantik dan seksinya, bagi yang bermata keranjang dan kurang ajar, tentu ingin merebutnya walau dengan cara-cara yang tidak wajar. Walau pun istri ketiganya tipe kurang setia, tapi dia tetap mencintainya, menyayanginya sepenuh hati dan selalu memberikan apa pun yang diminta sang istri.
Alkisah waktu pun terus berjalan, hingga suatu waktu kesehatan sang pengusaha mulai menurun, dia mulai menguji kesetiaan istri-istrinya. Saat berada di rumah istri ke empatnya, sang pengusaha bertanya, “Say, nampaknya umurku sudah tak lama lagi…. Jika aku harus mati, maukah kau mendampingiku?” “Apa maksudnya sayang?”, Tanya istri keempatnya pura-pura tidak mengerti. Lanjut sang pengusaha, bukankah dulu kau pernah berjanji untuk sehidup semati denganku?” Mendengar pertanyaan seperti itu, sang istri keempat menjawab: “Huh, apa peduliku denganmu, bukankah dulu kaulah yang mengejar-ngejarku, ketahuilah, aku tidak mencintaimu sepenuh hatiku, karena aku telah memiliki pendamping selain dirimu!”
Jawaban ketus istri keempatnya membuat sang Pengusaha hanya bisa terdiam dan bersedih hati.
Karena sudah tak tahan diacuhkan istri keempatnya, maka pergilah sang pengusaha ke istri ketiganya. Dia pun bertanya kepadanya. “Istriku yang tercantik dan yang paling kusayangi…kau tentu tau, bahwa aku sudah mulai sakit-sakitan, sebentar lagi mungkin ajal akan menjemputku, maukah kau pergi bersamaku dalam kematian seperti janjimu ketika kita menikah dulu?” Jawab istri ketiganya, “Maaf, aku tak sudi lagi menikah dengan orang tua renta sepertimu. Walau pun aku jadi janda nantinya, aku masih cantik dan disukai oleh orang-orang muda dan gagah; aku dapat melihat kerlingan mata anak-anak muda yang menggodaku saat aku hadir di dalam setiap perjalanan denganmu, aku dapat melihat napsu yang terpancar dari wajah mereka untuk mendekapku erat dalam pelukan mereka.”
Betapa kagetnya sang pengusaha, karena jawaban istri ketiganya justru membuat semakin remuk redam perasaannya, hatinya terluka dia merasakan hancur luluh berkeping-keping tak bersisa.
Dengan sisa harapan dan kesedihan mendalam, dia mendatangi istri keduanya. “Istriku tersayang dan kubanggakan, lihatlah tubuhku semakin tua, renta dan sakit-sakitan, mungkin sebentar lagi, Malaikat “Izrail” akan mendatangiku, mencabut nyawaku, maukah kau mati bersamaku seperti janjimu dulu ketika menikah denganku?” Jawab istri keduanya, "Maafkkan sayang, aku masih banyak urusan dengan duniaku, untuk apa aku harus pergi dan mati bersamamu?”
Beberapa saat sang pengusaha tertegun dan merenung merasakan seperti terjatuh dari tempat yang sangat tinggi ke dalam jurang yang dalam tak berbatas, tak bertepi, karena orang-orang yang dicintai dan dibanggakan selama ini, tak ada satu pun yang mau pergi dalam kematian bersamanya.
Tiba-tiba terdengar suara lirih dari arah lain “Aku bersedia untuk mati bersamamu, untuk selalu setia denganmu seperti janjiku dulu”….Betapa kagetnya sang pengusaha karena suara lirih dan parau itu sudah lama tak didengarnya, karena itu adalah suara istri pertamanya yang telah disia-siakannya, yang kini terlihat kurus dengan kulit membalut tulang, yang tetap dalam kesetiaan sampai kapan pun bersamanya.
Lantas singkat cerita, siapakah Pengusaha itu dan siapakah istri-istrinya?.
Ketahuilah, Sang PENGUSAHA adalah DIRI KITA sebagai seorang manusia yang selalu mengejar 3 istri, padahal istri pertama selalu setia mendampingi kita.
Ketahuilah istri keempat sang pengusaha adalah HARTA yang selama ini kita mengejar-ngejarnya, yang akan kita tinggalkan ketika ajal menjemput. Harta tersebut tidak kekal ditangan kita, karena itu akan jatuh ke tangan orang lain atau ahli waris.
Istri ketiga adalah JABATAN atau PANGKAT yang disandang seseorang yang juga akan ditinggalkan saat ajal menjemput. Pangkat dan jabatan akan diambil alih oleh orang-orang muda dan potensial. Jabatan dan pangkat tidak kekal melekat dalam genggaman.
Istri kedua adalah KELUARGA, kerabat dan handaitaulan, juga SAHABAT yang hanya akan mengantarkan kita sampai ke liang lahat, kemudian akan pergi meninggalkan kita seorang diri.
Sedangkan istri pertama adalah JIWA kita yang akan setia menemani kita sampai saat kita dimintai pertanggungjawaban atas 3 istri kita lainnya.
Selalu setialah pada istri pertamamu, selalu memberinya perhatian lebih, karena dialah yang akan selalu setia bersamamu saat dimintai pertanggungjawaban kelak oleh SANG KHALIK. Berilah hak-haknya sesuai tuntunan para Nabi yang mengajarkan rahasia ilmu hidup dan kehidupan.
Kenalilah istri-istrimu:
- Jiwa
- Keluarga dan Sahabat
- Jabatan / Pangkat
- Harta Benda
Wallahu'alam bi sawab
